BAB I : PENDAHULUAN
Untuk mendapatkan hasil kerja yang baik,tentu diperlukan perancangan sistem kerja yang baik pula.Oleh karena itu sistem kerja harus diranncang sehingga dapat menghasilkan hasil kerja yang diinginkan.Hal ini sangat penting karena sistem kerja harus dirancang sedemikian rupa sehingga dapat dimungkinan dilakukan garakan-gerakan yang ekonomis demi menjaga kenyamanan dan keselamatan kerja yang lebih produktif untuk meningkatkan kinerja karyawan.
Selain itu dalam menjalankan suatu pekerjaan untuk mendapatkan sistem kerja yang baik diperlukan adanya pengukuran yang tehknik-tehkniknya tergabungdalam pengukuran kerja yang mencakup pengukuran waktu,tenaga akhibat-akhibat psikologis dan sosiologis.
Lebih jauh lagi pengukuran waktu ditunjukan juga untuk mendapatkan waktu baku penyelesaian pekerjaan yaitu,waktu yang dibutuhkan secara wajar oleh seorang pekerja normal untuk menjalankan suatu pekerjaan normal yang dijalankan dalam sistem kerja yang baik.Hal ini dimaksudkan untuk bahwa waktu baku yang dicari bukanlah waktu penyelesaian yang diselesaikan secara tidak wajar seperti terlampau cepat atau terlampau lambat,bukan diselesaikan oleh seorang pekerja yang itimewa terampilnya atau lamban dan pemalas,dan bukan pula yang mengerjakannya dalam sistem kerja yang belum terbaik.

Disususn Oeh :
Nama : Hendrika Paulina O Wawo
NRP : 3108071
![]() |
FAKULTAS MANAJEMEN PRODUKSI, PEMASARAN DAN BISNIS
INSTITUT MANAJEMEN KOPERASI INDONESIA
2010
BAB II : PEMBAHASAN
A.Pengertian
Ergonomi merupakan suatu cabang ilmu yang sistematis untuk memanfaatkan informasi-informasi mengenal sifat,kemampuan dan keterbatasan manusia untuk merancang suatu sistem kerja kerjasehingga orang dapat hidup dan bekerja pada sistem itu dengan baik , yang mencapai tujuan yang diinginkan melalui pekerjaan itu dengan efektif,aman dan nyaman.
B. Prinsip-prinsip gerakan yang dihubungkan dengan tubuh manusia dan gerakan-gerakannya.
· Kedua tangan sebaiknya memeulai dan mengakhiri gerakan pada saat yang sama.
· Kedua tangan sebaiknya tidak menganggur pada saat yang sama kecuali pada saat istirahat.
· Gerakan tangan dan badan sebaiknya dihemat.Yaitu hanya menggerakan tangan atau bagian badan yang diperlukan saja untuk melakukan pekerjaan dengan sebaik-baiknya.
· Sebaiknya para pekerja dapat memanfaatkan momentum untuk membantu pekerjaannya , pemanfaatan ini timbul karena berkurangnya kerja otot dalam pekerja.
· Gerakan yang petah-patah,banyak perubahan arah akan memperlambat gerakan tersebut.
· Gerakan balistik akan lebih cepat , menyenangkan dan lebih teliti daripada gerakan yang dikendalikan.
· Pekerjaan sebaiknya dirancang semudah-mudahnya dan jika memungkinkan irama kerja harus mengikuti irama yang alamih bagi sipekerja.
· Usahkan sesedikit mungkin gerakan mata.
C. Prinsip-prinsip ekonomi gerakan dihubungkan dengan pengaturan tata letak tempat kerja.
o Sebaiknya diusahkan agar badan dan peralatan mempunyai tempat yang tepat.
o Tempatkan Bahan-bahan dan peralatan pada tempat yang mudah,cepat dan enak untuk dicapai.
o Tempat penyimpanan bahan yuang akan dikerjakan sebaiknya memanfaatkan prinsip gaya berat sehingga badan yang akan dipakai selalu tersedia ditempat yang dekatg dekat untuk diambil.
o Sebaiknya untuk menyalurkan obyek yang sudah selesai dirancang mekanismenya yang baik.
o Bahan-bahan dan peralatan sebaiknya dit empatkan sedemikian rupa sehingga gerakan-gerakan dapat dilakukan dengan urutan-urutan terbaik.
o Tinggi tyempat kerja dan kursi sebaiknya sedemikian rupa sehingga althernatif berdiri atau duduk dalam menghadapi pekerjaan merupakan suatu hal yang menyenangkan.
o Tipe tinggi kursi harus sedemikian rupa sehingga yang mendudukinya bersikap (mempunyai postur ) yang baik.
o Tata letak peralatan dan pencahayaan sebaiknya diatur sedemikian rupa sehingga dapat membentuk kondisi yang baik untuk penglihatan.
D. Prinsip-prinsip ekonomi gerakan dihubungkan dengan perancangan peralatan.
§ Sebaiknya tangan dapat dibebaskan dari semua pekerjaan bila penggunaan dari perkakas permbantu atau alat yang dapat digerakan dengan kaki dapat ditingkatkan.
§ Sebaiknya alat dapat dirancang sedemikian rupa agar mempunyai lebih dari satu kegunaan.
§ Peralatan sebaiknya dirancang sedemikian rupa sehingga memudahkan dalam pemegangan dan penyimpanan.
§ Bila setiap jari tangan melakukan gerakan sendiri-sendiri,misalnya seperti pekerjaan mengetik.Beban yang didistribusikan pada jari haarus sesuai dengan kekuatan masing-masing jari.
§ Roda tangan ,palang dan peralatan yang sejenis dengan itu sebaiknya diatur sedemikian sehingga beban dapat melayaninya dengan posisi yang baik,dan dengan tenaga yang minimum.
Suatu pekerjaan utuh dapat diuraikan menjadi menjadi gerakan dasar ,suatu pekerjaan mempunyai uraian yang berbeda-beda bila dibandingkan dengan pekerjaan lainnya . Hal ini tergantung dari jenis pekerjaannya .Kemampuan untuk menguraikan suatu pekerjaan kedalam therbli-therblig dengan baik sangat diperlukan,karena dengan demikia akan memudahkan dalam penganalisaannya.Selanjutnya dapat dengan baik pula diketahui gerakan-gerakan masa penganalisaannya masih dapat menghemat waktu kerja ,atau gerakan mana yang sebetulnya tidak perlu tidak pdiperlukan oleh pekerja tyapi masih dilakukan oleh pekerja.
Therblig-therblig itu diantaranya adalah :
ü Mencari (search)
Merupakan gerakan dasar dari pekerja untuk meneukan lokasi objek.Yang bekerja cari oberakhir bila obyek sudah ditemukan.
Tujuannya : Untuk menghilangkan sedapat mungkin gerak yang tidak perlu.
ü Memilih (select)
Merupakan gerakan untuk menemukan suatu obyek yang tercampur,tangan dan mata adalah dua bagian badan yang digunakan untuk melakukan gerakan ini.Therblig ini dimulai pada saat tangan dan mata mulai memilih dan berakhir bila objek sudah ditemuklan .Batas antara mulai memilih dan akhir dari mencari agak sulit ditentukan karena ada pembauran pekerjaan diantara dua gerakan tersebut , yaitu gerakan yang dilakukan oleh mata.
ü Memegang (Graps)
Merupakan gerakan untuk memegang objek , biasanya didahului oleh gerakan menjangkau dan dilanjutkan oleh gerakan membawa.Therblig ini merupakan gerakan yang efektif dari suatu pekerjaan dan meskipun sulit untuk dihilangkan dalam beberapa keadaan masih dapat dikurangi.
ü Membawa (Move)
Merupakan suatu gerakan berpindah tangan , hanya dalam gerakan ini tangan dalam keadaan terbebani.Gerakan membawa biasanya didahuli oleh memegang dan dilanjutkan oleh melepas atau dapat juga oleh pengarahan (posision).Therblig ini mulai dan berakhir pada saat yang sama dengan menjangkau , karena itu faktor-faktor yang mempengaruhi waktu gerakannya hampir sama yaitu jarak pindah dan macamnya.
ü Menjangkau (Reach)
Gerakan tangan berpindah tempat tanpa beban,baik gerakan mendekati dan menjauhi objek .Gerakan ini biasanya didahului oleh gerakan melepas dan diikuti oleh gerakan memegang.Therblig ini dimulai pada saat tangan mulai berpindah dan berakhir bila tangan sudah berhenti.
Waktu yang dipergunakan untuk menjangkau ,tergantung pada jarak dari pergerakan tangan dan dari tipe menjangkaunya.Seperti juga memegang,menjangkau sulit untuk dihilangkan secara keseluruan dari siklus kerja;yang masih mungkin adalah pengurangan dari waktu gerak ini.
ü Memegang untuk memakai (hold)
Pengertian memegang untuk memakai disini adalah memegang tanpa menggerakan obyek yang dipegang tersebut,perbedaannya dengan yang memegang yang terdahulu adalah pada perlakuan terhadap obyek yang dipegang.Pada pemegang,pemegangan yang dilanjutkan dengan gerak yang membawa,sedangkan memegang untuk memakai tidak demikian..
Therblig ini merupakan gerakan yang tidak efektif,dengan demikian yang sedapat mungkin harus dihilangkan atau paling tidak dikurangi.
ü Melepas (Release)
Elemen gerak melepas terjadi bila seorang pekerja melepaskan obyek yang dipegangnya.Bila dibandingkan dengan therblig lainnya,gerakan melepas merupakan gerakan yang relative lebih singkat.
Therblig ini mulai pada saat pekerja mulai melepaskan tangannya dari obyek dan berakhir bila seluruh tangannya sudah tidak menyentuh obyek lagi.Gerakan ini biasanya didahului oleh gerakan mengangkut atau dapat pula gerakan mengarahkan biasanya diikuti oleh gerakan menjangkau.
ü Mengarahkan (position)
Therblig merupakan gerakan mengarahkan suatu obyek pada suatu lokasi tertentu.Mengarahkan biasanya didiahului oleh gerakan mengangkut atau biasa mengikuti oleh gerakan merakit (asambling).
Gerakan ini mulai sejak tangan mengendalikan obyek misalnya memutar,menggeserkan ketempat yang diinginkan dan berakhir pada saat gerakan merakit atau memakai dimulai.
Waktu untuk menagarahkan juga terpengaruh untuk kerja mata,karena selama tangan mengarahkan ,mata terus mengontrol agar obyek dapat dengan mudah ditempatkan pada lokasi yang telah ditentukan.
ü Mengarahkan Sementara (pre poition )
Mengarahkan Sementara merupakan elemen gerak mengarahkan pada suatu tempat sementara.
Tujuan dari penempatan sementara ini adalah untuk memudahkan pemegangan apabila obyek tersebut akan dipaki kembali.
Dengan demikian untuk siklus berikutnya elemen bergerak mengarahkan diharapkan berkurang.Hal ini terjadi karena obyek yang akan dipegang sudah diposisikan sedemikian rupa sehingga memudahkan dalam pemakaian selanjutnya.Therblig ini sering terjadi bersama dengan therblig yang lain diantaranya adalah mengankut dan melepas.
Dari uraian diatas dapat dibedakan therblig mengarahkan dengan therblig sementara.
Langkah | Nama Gerakan |
1.Mengambil bullpen 2.Memegang bullpen 3.Membawa bullpen ke kertas 4.Mengarahkan bullpen untuk menulis 5.Menulis 6.Mengembalikan Bullpen ke tempatnya 7.Memasukan bullpen ke tempatnya 8.Melepaskan bullpen 9.Menggerakan kembali tangan ke atas. | Menjangkau Memeggang Membawa Mengarahkan Memakai Membawa Mengarahkan sementara Melepas Menjangkau ( transport empty ) |
Setelah mengarahkan sementara bullpen terletak dengan posisi berdiri (pada pemegang biullpen) sedemikian rupa sehingga memudahkan pemegangan selanjutnya bila buiipen tersebut akan dipakai kemabali.Bila bullpen tersebut dibawa setelah dipakai dan disimpan pada tempat bullpen yang mendatar pada meja,yang terjadi disini bukan mengarahkan sementara tetapi mengarahkan pemegangan kembali seperti seperti yang diinginkan oleh pengarahan sementara.
ü Pemeriksaan atau inspect
Therblig ini merupakan pemeriksaan obyek untuk mengetahui apakah obyek telah memenuhi syarat-syarat tertentu. Elemen dapat berupa gerakan-gerakan melihat seperti untuk memeriksa warna ,meraba seperti memeriksa kehalusan permukaan,mencium ,mendengarkan dan kadang-kadang merasa dengan lidah.
ü Perakitan atau asamble
Perakitan adalah gerakan untuk menggabungkan suatu obyek dengan obyek yang lain sehingga menjadi satu kesatuan.Gerakan ini biasanya didahului oleh salah satu therblig membawa atau mengarahkan dan dilanjutkan oleh therblig terlepas.
Pekerjaan perakitan dimulai apabila objek sudah siap dipasang dan barakhir bila objek tersebut sudah tergabung secara sempurna.
ü Lepas Rakit.
Therblig ini merupakan kebalikan dari terblig diatas,disini juga dua bagian objek dipisahkan dari satu kesatuan.
ü Memakai ( Use )
Yang dimaksud memakai disini adalah bila satu tangan atau kedua-duanya dipakai untuk menggunakan alat.
Lamanya waktu yang dipergunakan untuk gerak ini tergantung dari jenis pekerjaan dan keterampilan dari pekerjaannya.
ü Kelambatan yang tak terhindarkan
Keterlambatan yang dimaksudkan disini adalah kelambatan yang yang diakibatkan oleh hal-hal yang terjadi diluar kemampuan pengendian pekerja.Hal ini timbul karena adanya ketentuan cara kerja yang mengakibatkan sunya ketentuan cara kerja yang mengakibatkan suatu atu tangan menganggur sedangakan tangan yangtangan menganggur sedangakan tangan yang lainnya bekerja.
ü Kelambatan yang dapat dihindarkan
Kelambatan ini ditimbulakan oleh kelambatan yang disebabkan sepanmjang waktu kerja oleh pekerjaannya baik sengaja maupun tidak disengaja.
ü Merencana ( Plan )
Merencana merupakan Proses mental dimana operator berpikiran untuk menentukan tindakan yang akan diambil selanjutnya.Waktu untuk therblig ini lebih sering terjadi pada seorang pekerja baru.
ü Istirahat untuk menghilangkan FatiQue
Hal ini tidak terjadi pada setiap ssiklus kerja ,tetapi terjadi secara periodic.
Waktu untuk memulihkan lagi kondisi badannya dari rasa agai akibat fatique sebagai akibat kerja yang berbeda-beda,tidak saja karena jenis pekerjaannya tetapi juga oleh individu pekerjanya.
E. Pengukuran waktu secara langsung
Pengukuran waktu dinyatakan langsung karena pengamat berada di tempat objek pengukuran yang sedang diamati secara langsung. Dengan demikian pengamatan langsung merupakan pengukuran atas waktu kerja yang dibutuhkan oleh seorang operator (objek pengamatan) dalam menyelesaikan pekerjaan. Pengukuran waktu secara langsung dapat dibagi atas dua jenis pengukuran, yaitu:
- Jam henti
- Sampling (uji petik) pekerjaan
- Sampling (uji petik) pekerjaan
Kedua pengukuran tersebut berbeda dari segi karakteristik pekerjaan yang diukur, serta lamanya pengamat dalam melakukan pengukuran.
a. Pengukuran Langsung dengan Jam Henti
Pengukuran waktu jam henti adalah pekerjaan mengamati pekerja dan mencatat waktu kerjanya baik setiap elemen ataupun siklus dengan menggunakan alat yang telah disiapkan.
1) Tahapan Sebelum Melakukan Pengukuran
Banyak factor yang harus diperhatikan agar dapat diperoleh data waktu yang pantas untuk pekerjaan yang bersangkutan seperti yang berhubungan dengan kondisi kerja, memilih operator, cara pengukuran, jumlah pengukuran dan lain-lain. Sebelum melakukan pengukuran perlu dilakukan upaya melalui tahapan sebagai berikut (Sutalaksana, 1979):
a. Penetapan Tujuan Pengukuran
Dalam melakukan pengukuran waktu kerja, tujuan pengukuran harus ditetapkan terlebih dahulu dan untuk apa hasil pengukuran digunakan. Dalam penentuan tujuan tersebut, dibutuhkan adanya tingkat kepercayaan dan tingkat ketelitian yang digunakan dalam pengukuran jam henti.
b. Melakukan Penelitian Pendahuluan
Dalam penelitian pendahuluan yang harus dilakukan adalah mengamati dan mengidentifikasi kondisi kerja dan metode kerja. Dalam penelitian ini perlu dianalisis hasil pengukuran waktu kerja, apakah masih ada kondisi yang tidak optimal, jika perlu dilakukan perbaikan kondisi kerja dan cara kerja yang baik.
c. Memilih Operator
Operator yang akan melakukan pekerjaan harus dipilih yang memenuhi beberapa persyaratan agar pengukuran dapat berjalan baik, dan dapat diandalkan hasilnya. Syarat tersebut yang dibutuhkan berkemampuan normal dan dapat bekerja sama menjalankan prosedur kerja yang baik.
d. Melatih Operator
Operator harus dilatih terlebih dahulu agar terbiasa dengan kondisi dan cara yang telah ditetapkan dan telah dibakukan untuk menyelesaikan pekerjaan secara wajar.
e. Menguraikan Pekerjaan Atas Beberapa Elemen Pekerjaan
Pekerjaan dibagi menjadi beberapa elemen pekerjaan yang merupakan gerakan bagian dari pekerjaan yang bersangkutan. Pengukuran waktu dilakukan atas elemen pekerjaan. Ada beberapa pedoman yang harus diperhatikan dalam melakukan pemisahan menjadi beberapa elemen pekerjaan yaitu:
ü Uraikan pekerjaan tersebut, tetapi harus dapat diamati oleh alat ukur dan dapat dicatat dengan menggunakan jam henti.
ü Jangan sampai ada elemen yang tertinggal karena jumlah waktu elemen kerja tersebut merupakan siklus penyelesaian suatu pekerjaan.
ü Antara elemen satu dengan elemen yang lain pemisahannya harus jelas. Hal ini dilakukan agar tidak timbul keraguan dalam menentukan kapan berakhirnya atau mulainya suatu pekerjaan.
f. Menyiapkan Alat Pengukuran
Alat yang digunakan untuk melakukan pengukuran waktu baku tersebut yaitu:
- Jam henti (stop watch)
- Lembar pengamatan
- Pena atau pensil
- Papan pengamatan
- Jam henti (stop watch)
- Lembar pengamatan
- Pena atau pensil
- Papan pengamatan
b. Melakukan Pengukuran Waktu
Banyaknya pengukuran pendahuluan ditetapkan oleh pengamat setelah jumlah pengukuran yang diperlukan terpenuhi maka dilakukan pengujian keseragaman data dengan cara mengelompokkannya ke dalam sub-sub grup.
c. Penentuan Faktor Penyesuaian
Faktor penyesuaian digunakan untuk menyesuaikan ketidakwajaran dan operator yang sedang diukur waktu menyelesaikan pekerjaannya. Ketidakwajaran ini bisa terjadi karena bekerja tanpa kesungguhan, terlalu cepat atau atau terlalu lambat. Beberapa factor seperti kondisi ruang, ketrampilan buruh dalam melakukan pekerjaan, dan lain-lain sangat berpengaruh terhadap hasil kerja.
Bila pengukur berpendapat bahwa operator dalam melakukan pekerjaan terlalu cepat, maka harga factor penyesuaian (p) akan lebih besar dari satu (p>1), sebaliknya bila operator bekerja terlalu lambat maka factor penyesuaian (p) akan lebih kecil dari satu (p<1), dan bila operator bekerja secara normal, maka factor penyesuaian sama dengan satu (p=1). Operator dianggap bekerja normal bila dianggap berpengalaman, bekerja tanpa usaha-usaha yang berlebihan sepanjang hari, menguasai cara kerja yang ditetapkan dan menunjuk kesungguhan dalam melakukan pekerjaannya.
Beberapa cara menentukan faktor penyesuaian yaitu antara lain, (Sutalaksana; 1979):
a. Cara Persentase
Cara ini merupakan cara yang paling awam untuk digunakan dalam melakukan penyesuaian. Besarnya factor penyesuaian sepenuhnya ditentukan oleh pengukuran melalui pengamatan selama melakukan pengukuran. Setelah mengukur pengamat menentukan factor penyesuaian (harga p) yang menurutnya akan menghasilkan waktu normal bila harga ini dikalikan dengan waktu siklus. Bila p = 110%, waktu siklus (Ws) suatu pekerjaan telah dihitung sama dengan 14,6 menit, maka waktu normal pekerjaan tersebut sama dengan:
Wn = Ws x P
= 14,6 menit x 110%
= 16,6 menit
= 14,6 menit x 110%
= 16,6 menit
Penentuan factor penyesuaian tersebut dilakukan dengan sangat sederhana. Di lain pihak kekurangan ketelitian hasil sebagai akibat dari kasarnya cara penilaian.
b. Cara Shumard
Cara ini memberikan patokan-patokan penilaian melalui kelas-kelas performance kerja diri sendiri. Seorang yang dipandang bekerja diberi nilai 60, nilai ini digunakan sebagai patokan untuk memberikan penyesuaian bgi performance kerja lainnya
c. Cara Westinghouse
Cara ini berbeda dengan cara Shumard, cara tersebut mengarahkan penilaian pada empat factor yang dianggap menentukan kewajaran atau ketidakwajaran dalam bekerja yaitu ketrampilan, usaha, kondisi kerja dan konsistensi.
Yang dimaksud dengan kondisi kerja atau condition pada cara Westinghouse adalah kondisi fisik lingkungannya seperti keadaan pencahayaan, temperature dan kebisingan ruangan. Bila tiga factor lainnya yaitu ketrampilan, usaha dan konsisten merupakan apa yang dicerminkan operator, maka kondisi kerja merupakan sesuatu di luar operator yang diterima apa adanya oleh operator tanpa banyak kemampuan merubahnya. Oleh sebab itu factor kondisi sering disebut sebagai factor manajemen, karena pihak inilah yang dapat dan berwenang merubah atau memperbaikinya.
d. Cara Objektif
Cara ini memperlihatkan dua factor, yaitu kecepatan kerja dan tingkat kesulitan kerja. Kecepatan kerja adalah kecepatan dalam menyelesaikan pekerjaan. Jika operator bekerja terlalu cepat, penyesuaian untuk kecepatan besarnya > 1, jika operator bekerja lambat penyesuaian kecepatan kerja < 1, dan jika operator bekerja normal penyesuaiannya = 1. Besarnya penyesuaian untuk tingkat kesulitan kerja ditentukan dengan memperhatikan kesulitan-kesulitan dalam bekerja.
e. Cara Bedaux
Cara ini merupakan pengembangan untuk lebih mengobyektifkan penyesuaian. Pada dasarnya cara ini tidak berbeda dengan cara Shumard, hanya saja nilai-nilai pada Bedaux dinyatakan dalam “B” seperti misalnya 60B, 70B dan sebagainya.
f. Cara Sintesa
Cara ini lebih berbeda dengan cara yang lainnya, dalam waktu penyesuaian setiap elemen gerakan dibandingkan dengan beebrapa harga yang diperoleh dari table-table data waktu gerakan, untuk kemudian dihitung harga rata-rata. Harga rata-rata inilah yang dinilai sebagai factor penyesuaian untuk elemen-elemen pekerjaan pertama, kedua dan ketiga bagi suatu siklus pekerjaan adalah 17,10 detik dan 32 detik. Dari beberapa table data waktu gerakan didapat untuk beberapa elemen yang sama masing-masing pada beberapa elemen tersebut, perbandingannya adalah 12:10 dan 29:10, rata-ratanya yaitu 1,05. Harga rata-rata ini menjadi nilai factor penyesuaian untuk ketiga elemen pekerjaan tersebut oleh siklus yang bersangkutan. Perhitungan waktu normal sama dengan cara-cara lainnya.
d.Penentuan Kelonggaran
Kelonggaran diberikan untuk tiga hal, yaitu untuk kebutuhan pribadi, menghilangkan rasa lelah dan hambatan-hambatan yang tidak dapat dihindarkan. Ketiganya ini merupakan hal-hal yang secara nyata dibutuhkan oleh pekerja, dan selama pengukuran waktu kerja tidak diamati, diukur, dicatat ataupun dihitung.
e. Perhitungan Waktu Baku
Jika pengukuran telah selesai dilakukan pengujian keseragaman data ternyata seluruh data telah seragam dengan batas-batas yang telah diperoleh, disertai pula dengan jumlah pengukuran dimana telah cukup memadai pada tingkat ketelitian dan tingkat kepercayaan yang diinginkan, maka selesailah kegiatan pengukuran dilakukan. Data-data yang diperoleh kemudian diolah untuk mendapatkan waktu baku.
Pengukuran Langsung dengan Uji Petik Pekerjaan
1) Konsep Uji Petik (Sampling) Pekerjaan
Uji petik pekerjaan adalah suatu prosedur pengukuran yang dilakukan pada waktu-waktu tertentu secara acak. Pada awalnya metode ini dikembangkan oleh Tippet pada pabrik tekstil di Inggris. Metode ini mudah diterapkan sehingga secara cepat meluas digunakan di beberapa Negara. Metode tersebut, berkembang didukung pendekatan statistic sehingga kesimpulan yang diambil tidak sekedar mengira, maka dilakukan sampling for estimation population proportion, yaitu melakukan pendugaan contoh melalui perbandingan populasi. Untuk memprediksi waktu kerja yang digunakan dilakukan pengamatan secara acak.
2) Batasan untuk Menentukan Uji Petik Pekerjaan
Batasan yang digunakan dalam menentukan uji petik pekerjaan adalah jenis pekerjaan yang diamati tidak heterogen jenisnya dan sudah jelas diskripsi pekerjaannya (job description), karena pengamat akan mendapatkan kesulitan, ketika pekerja yang diamati meninggalkan ruangan yang tidak jelas keperluannya, apakah sedang bertugas di luar atau tidak. Setiap kesalahan pengamatan data dan pengukuran waktu akan memberikan dampak terhadap nilai produktivitas pekerja.
3) Teknik Penentuan Kualifikasi Produktivitas Kerja
Penentuan kualifikasi produktivitas kerja adalah penilaian pekerjaan bagi pekerja dengan produktivitas yang pantas dan baku dengan skala dan prestasi 100.
- Kurang dari 25% dianggap sebagai pekerja tidak produktif
- 25% - 50% dianggap sebagai pekerja dengan produktivitas biasa
- 50% - 75% dianggap sebagai pekerja produktif
- Lebih besar dari 75% dianggap sebagai pekerja sangat produktif.
- Kurang dari 25% dianggap sebagai pekerja tidak produktif
- 25% - 50% dianggap sebagai pekerja dengan produktivitas biasa
- 50% - 75% dianggap sebagai pekerja produktif
- Lebih besar dari 75% dianggap sebagai pekerja sangat produktif.
Pengukuran waktu secara tidak langsung
Pengukuran waktu jenis ini disebut tidak langsung, karena pengamat tidak berada secara langsung di lokasi (obyek) pengukuran dari awal hingga akhir. Pengukuran waktu kerja dilakukan dengan melakukan analisis berdasarkan perumusan serta berdasarkan data waktu yang telah tersedia. Pengukuran waktu secara tidak langsung dapat dibagi atas lima jenis pengukuran yaitu:
- Data waktu baku sintesis
- Data waktu gerakan MOST (Waktu Standar Urutan Operasi Maynard)
- Faktor kerja
- MTM (Pengukuran Waktu Metode)
- Gerakan Dasar
- Data waktu gerakan MOST (Waktu Standar Urutan Operasi Maynard)
- Faktor kerja
- MTM (Pengukuran Waktu Metode)
- Gerakan Dasar
3. Pengukuran Waktu Baku Tidak Langsung Sintesis
Pada pengukuran waktu tidak langsung dapat dilakukan dengan menggunakan dua cara yaitu dengan data waktu baku dan data waktu gerakan. Untuk data waktu gerakan terdapat beberapa metode yang bias digunakan untuk menganalisa gerakan tersebut seperti:
1) Sintesis regresi linier,
2) Maynard Operation Sequence Technique (MOST),
3) Faktor Kerja,
4) Motion Time Measurement (MTM), dan
5) Gerakan Dasar
2) Maynard Operation Sequence Technique (MOST),
3) Faktor Kerja,
4) Motion Time Measurement (MTM), dan
5) Gerakan Dasar
4. Pengukuran Waktu Baku secara Tidak Langsung berdasarkan Maynard Operation Sequence Technique (MOST)
MOST merupakan salah satu alat ukur dalam pengukuran waktu tidak langsung berdasarkan teknik data waktu gerakan yang disusun berdasarkan urutan sub-sub aktivitas. Sub aktivitas ini didapat berdasarkan pola gerakan yang berulang, seperti mengjangkau, memegang, bergerak, dan memposisikan obyek yang diidentifikasikan dan diatur sebagai urutan kejadian (sub aktivitas) yang diikuti perpindahan obyek (Maynard, 1971). Secara umum konsep MOST mempunyai dua model yaitu:
A. Model urutan dasar (The Basic Sequence Models)
B. Model urutan penanganan peralatan (The Equipment Handling Sequence Models)
2.2.2.1 Model Urutan Dasar
Pada model urutan dasar terdiri dari tiga model yaitu:
a. Model Urutan Gerakan Umum
Karakteristik dari model ini dapat dilihat pada urutan sub aktivitas sebagai berikut:
Ø Menjangkau obyek dengan satu atau dua tangan pada jarak tertentu dengan atau tanpa gerakan badan.
Ø Mengendalikan obyek dengan tangan (tanpa alat).
Ø Memindahkan obyek dalam jarak tertentu ke tempat yang dituju dengan atau tanpa gerakan.
Ø Menempatkan obyek.
Ø Kembali ke tempat semula.
b. Model Gerakan Terkendali
Model ini menggambarkan perpindahan obyek secara manual “dikendsalikan oleh suatu jalur.” Gerakan obyek dibatasi paling sedikit satu arah karena terjadi kontak atau menempel dengan obyek yang lain.
Urutan sub aktivitas dari model ini adalah:
v Menjangkau obyek dengan satu atau dua tangan pada jarak tertentu dengan atau tanpa gerakan badan.
v Mengendalikan obyek tanpa alat.
v Memindahkan obyek dalam keadaan terkendali.
v Waktu melakukan kerja pada obyek.
v Mengatur obyek dengan disertai gerakan terkendali atau akhir dari suatu proses.
v Kembali ke tempat semula.
c. Urutan Pemakaian Peralatan
Model ini merupakan pengembangan model gerakan umum dengan tambahan parameter yang menunjukkan pemakaian peralatan tangan atau untuk kasus tertentu digunakan proses mental. Ada lima aktivitas dalam model ini yaitu:
§ Menjangkau obyek
§ Menempatkan obyek atau alat
§ Memakai alat
§ Melepaskan alat/obyek
§ Kembali ke tempat kerja
BAB III : PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
Untuk mendapatkan hasil kerja yang baik,tentu diperlukan perancangan sistem kerja yang baik pula.Oleh karena itu sistem kerja harus diranncang sehingga dapat menghasilkan hasil kerja yang diinginkan.Hal ini sangat penting karena sistem kerja harus dirancang sedemikian rupa sehingga dapat dimungkinan dilakukan garakan-gerakan yang ekonomis demi menjaga kenyamanan dan keselamatan kerja yang lebih produktif untuk meningkatkan kinerja karyawan.
Hal ini dimaksudkan untuk bahwa waktu baku yang dicari bukanlah waktu penyelesaian yang diselesaikan secara tidak wajar seperti terlampau cepat atau terlampau lambat,bukan diselesaikan oleh seorang pekerja yang istimewa terampilnya atau lamban dan pemalas,dan bukan pula yang mengerjakannya dalam sistem kerja yang belum terbaik.
3.2 SARAN
Dalam Upaya menjaga Kenyamanan dan Keselamatan kerja demi meningkatkan kinerja dan produktifitas kerja karyawan maka perlu diperhatikan bagaimana cara dan prinsip-prinsip kerja secara Ergonomi,dimana telah terpapar semua mengenai bagaimana mnengani hal tersebut agar apa yang kita kerjakan dapat terwujud demi meningkatka kinerja karyawan dan tidak menimbulkan kelelahan dan kejenuhan dalam bekerja.
Penulis
Hendrika Paulina Oje Wawo
KATA PENGANTAR
Puji dan Syukur penulis haturkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa,karena hanya berkat dan hidayat-Nya penulis dapat menyelesaikan Makalah yang bejudul “UPAYA MENJAGA KENYAMANAN DAN KESELAMATAN KERJA UNTUK MENINGKATKAN KINERJA KARYAWAN “ semoga dengan makalah ini dapat berguna bagi kita semua yang membacanya yang ingin meningkatkan kinerja dan produktifitas kerjanya,Namun penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan oleh karena itu penulis menginginkan kritik dan saran yang dapat menjadi masukan demi menyempuranakan makalah ini.
Akhirnya,penulis mengucapkan limpah terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian makalah ini dan kepada dosen pembimbing yang telah membimbing saya sehingga makalah ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya.
Penulis
Hendrika Paulina Oje Wawo
0 komentar:
Posting Komentar